Selasa, 9 Ogos 2011

KISAH ADIK-BERADIK

Pada suatu hari yang nyaman, dengan tiupan angin sepoi-sepoi bahasa, sebuah keluarga besar telah pergi piknik di tepi pantai. Keluarga ini merupakan keluarga yang kaya raya. Ada tauke balak, ada tauke minyak, ada tauke minyak sawit, ada tauke getah, ada tauke emas dan macam-macam lagi. Namun, tidak mungkin dalam satu bakul buah itu, semuanya elok, pasti ada jugak yang busuk.

Sebenarnya kehidupan adik-beradik ini mula goyah selepas bapa mereka dibunuh secara kejam di Turki. Kehidupan mereka mula bertelagah sesama sendiri. Bagi abang-abang yang kaya, mereka melupakan adik- adik mereka yang miskin. Bagi adik-adik yang mula belajar hidup berdikari, maka berusahalah mereka membantu adik-adik yang miskin itu semampunya sambil menempelak abang-abang mereka yang mula lupa diri.
Satu hari, semasa keluarga ini berkelah, seorang adik perempuan mereka telah diculik dan telah dicabul dengan kejam. Perlakuan ini berlaku di depan khemah abang-abang yang kaya ini. Pencabulan si adik itu dilakukan oleh sekumpulan pendatang haram yang suka membuat kacau kehidupan orang lain. Adik-adik yang lemah ini hanya mampu memandang dengan kesayuan. Tetapi si abang-abang hanya melihat dengan keseronokan adik perempuan mereka dicabul kehormatannya di hadapan khemah mereka sendiri.

Nilai Segelas Air

Saat itu berkuasa Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad, Iraq. Ada seorang ulama faqih dan sholeh yang sangat terkenal pada masa itu, bernama  Ali Syaqiq bin Al Azdi. Ketika beliau sedang menunaikan ibadah haji dan singgah di Irak, Khalifah Harun Al-Rasyid memerintahkan pengawalnya untuk mengundang Syaqiq datang ke istananya.
Setibanya Syaqiq di istana, Khalifah Harun Al-Rasyid yang memiliki sifat tawadhu, meminta nasihat kepada beliau. Pada saat itu datang seorang pelayan membawa nampan berisi segelas air. Kemudian Syaqiq mengambil gelas itu dan bertanya kepada Khalifah, jika seandainya Khalifah berada di gurun yang sangat tandus dan sangat memerlukan seteguk air minum, berapa khalifah akan membayar untuk segelas air ini? Khalifah kemudian menjawab akan membayarnya dengan separuh kekayaan kerajaannya. Syaqiq lalu meminum segelas air tersebut.

Syaqiq kemudian bertanya kembali kepada Khalifah, jika seandainya air yang tadi diminum tidak dapat dikeluarkan dari tubuh Khalifah, berapa harga yang akan dikeluarkan Khalifah untuk dapat menyembuhkannya, supaya air tersebut dapat dikeluarkan dari tubuhnya? Khalifah kembali menjawab akan membayarnya dengan separuh kekayaan kerajaannya.

Penderitaan Bukanlah Kelemahan



Setiap kali kita mengalami peristiwa yang membuat kita bersedih atau menderita seringkali kita menutupinya atau menekan perasaan kita agar tidak kelihatan lemah atau takut dianggap sebagai orang yang lemah iman sehingga bila ditanya 'apa kabar? kemudian kita menjawab, 'baik..!' Tanpa kita sedari kita menolak penderitaan.

Di lingkungan kita berada bila terjadi sesuatu peristiwa duka, kehilangan orang yang kita cintai biasanya ada ungkapan, 'sudahlah, jangan menangis. Ikhlaskan saja kepergiannya.' Itulah sebabnya kita menekan perasaan kita, menekan emosi kita, tidak menunjukkan menangis di depan umum agar kita tidak dianggap sebagai orang yang lemah bahkan sebaliknya mungkin mahi dianggap sebagai orang yang tabah.

Padahal bila kita memahami lebih dalam setiap duka dan penderitaan yang kita alami sesungguhnya banyak manfaatnya dalam hidup kita. Penderitaan dan duka yang sering kita alami sesungguhnya bukan kelemahan melainkan sebuah kekuatan yang ada di dalam diri kita. Ada beberapa manfaat di dalam penderitaan yang kita rasakan sebagai kekuatan.

Pertama, Pengalaman duka atau yang kita rasakan sebagai penderitaan jesteru mengajarkan kita pada limpahan kasih sayang Allah Subhanahu Wa ta'ala agar kita semakin dekat dan taat kepadaNya, dengan demikian limpahan kasih sayang Allah akan memenuhi hati kita dan hati kita memancarkan kasih sayangNya untuk semua orang yang ada di sekeliling kita.

Kedua, penderitaan yang kita rasakan menjadikan kebahagiaan kita menjadi sempurna. Kebahagiaan sejati pada asasnya adalah mengalami kegembiraan dan penderitaan secara seimbang. Hidup menjadi dinamik ketika semuanya datang silih berganti antara kebahagiaan dan penderitaan.

Ketiga, penderitaan membuat kita semakin peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi memiliki empati dan menghormati orang lain sebagai hamba Allah yang sama-sama dimuliakan. Kita tidak berani menghina, melecehkan, atau mencemuh orang lain kerana kita merasakan betapa pahitnya sebuah penderitaan.

Keempat, ketika hati kita remuk redam, ingin menangis... menangislah sesungguhnya apa yang kita rasakan sakitnya, dengan menangis merupakan salah satu cara untuk membersihkan hati kita. Menangislah kepada Allah agar diberikan kesabaran dalam menjalani hidup ini sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

'Apa yang di sisimu akan lenyap dan apa yang di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. an- Nahl : 96).
Sedarilah setiap kejadian dan peristiwa itu ada hikmahnya...

Selamat mengerjakan ibadah puasa tahun 2011 ini.
      

Isnin, 8 Ogos 2011

Apakah Pengertian IMAN Menurut Anda?

 Iman berarti mempercayai atau membenarkan (Tasdiq). Beriman kepada Allah berarti mempercayai keberadaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun menurut istilah iman artinya membenarkan dalam hati, mengikrarkan dengan lisan dan mempraktekkan dengan perbuatan sesuai dengan tuntunan Islam. Dalam pengertian ini iman memiliki tiga unsur pokok yaitu membenarkan (Tasdiq), pengakuan (Iqrar) dan perbuatan atau pelaksanaan (Amal) dan kita wajib mengimani enam hal sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam sebagai sabdanya,

'Iman adalah hendaknya engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, Hari Kiamat dan ketetapan Nya yang baik maupun yang buruk.' (HR. Muslim).

Ahad, 7 Ogos 2011

Dunia Itu Milik-Nya

Alhamdulillah...

Hari ini nampaknya seluruh umat islam telah menunaikan ibadah wajib ramadan selama 7 hari. Mungkin ini adalah petanda Allah masih sayangkan kita semua untuk meneruskan kewajiban Rukun Islam ke3. Selama ini, pernakah kita berhenti dan berfikir sejenak, mengapa Allah masih memberi kita nyawa pada hari ini?!, ya, mungkin kerana Allah masih sayangkan kita dan hamba-Nya yang lain untuk meneruskan serta menambah amalan. Atau barangkali juga kerana kita masih mempunyai misi yang telah ditetapkan pada sesuatu umur tapi masih belum sampai kepada misi itu. Disini saya berfikir sedemikian.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...